Oleh: Rimba Alangka
Semua orang mungkin atau pasti akan menolak, kemudian akan membuangnya jauh-jauh jika ditubuhnya melekat kotoran yang bernama tai asu ( jawa ) atau kalau di indonesiakan berarti kotoran anjing. Bagi umat Islam yang mengikuti madzhab Syafii akan membersihkannya dengan mencucinya sebanyak tujuh kali dan salah satunya dengan menggunakan debu. Tai asu atau kotoran anjing lebih banyak dianggap menjijikan walaupun sebenarnya lepas dari itu semua bisa digunakan atau didaur ulang untuk diambil manfaatnya.
Dalam bahasa Arab Tai Asu diartikan sebagai sifat putus asa. Tai Asu memang menyakitkan jika sudah menempel didalam diri kita. Apalagi jika sudah membekas dan sulit untuk dihilangkan. Tai Asu menyebabkan manusia gagal dalam menjalani kehidupannya ataupun cita-citanya. Seringkali Tai Asu menyebabkan kehancuran bagi seseorang, lembaga, masyaratakat dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Karena tidak sabar dalam menghadapi cobaan seseorang nekad melakukan apapun. Tai Asu itu sudah kering menempel didalam dirinya.
Lama belum ada kejelasan akan turunnya SKB tiga menteri, segolongan orang bertindak anarkis terhadap saudaranya sendiri yang notabenenya adalah saudara sendiri dalam beragama, berbangsa dan bertanah air. Bahasa persatuan merekapun semuanya sama yaitu bahasa Indonesia. Rukun Islam mereka jug sama dengan kesempurnaan pada menjalankan ibadah Haji.
Merusak fasilitas gedung sekolah, masjid, rumah-rumah jamaah ahmadiah yang tidak berdosa dan tidak tahu menahu akan segala konflik yang ada pun ikut menjadi sasaran amuk masa. Andai saja gedung-gedung bisa meluapkan kekesalan mereka akan berteriak dengan lantang “ Dasar Tai Asu”
Namanya saja Tai Asu dilihat dari segi bahasapun sudah memberikan arti yang menjijikan alias suatu kotoran yang keluar dari Asu ( jawa ) atau Anjing ( Indonesia ). Dalam bahasa Arab kalimat Tai Asu terdiri dari dua kata. Pertama huruf Ta sendiri merupakan kata ganti dari orang kedua tunggal yang berarti kamu. Kedua kata Asu yang berasal dari kata Aasa bermakna putus asa (pesimis ). Siapapun tidak akan mau jika didalam dirinya dihinggapi ataupun menempel Tai Asu. Baik secara secara bahasa Jawa ataupun bahasa Indonesia.
Sifat putusa asa akan selalu menghinggapi kita sebagai manusia. Karena didalam diri kita tercipta nafsu. Baik itu nafsu yang baik ataupun buruk. Tanpa adanya Tai Asu mungkin kita tidak akan merefleksikan diri kita sendiri akan segala kelebihan dan kekurangan yang kita miliki.
Bangsa Indonesia yang berkeinginan untuk menjadi Negara maju masih banyak dihinggapi Tai Asu. Karena tidak menemukan jalan untuk memecahkan masalah melonjaknya harga minyak dunia, BBM akhirnya dinaikan. Korupsi merajalela. Bukankah banyak jalan menuju Roma, jalan-jalan alternative yang bisa digunakan tanpa harus berhenti karena adanya Tai Asu yang melekat dalam bangsa ini.
Tai Asu yang terinjak oleh sebuah ketakutan karena standar nilai UAN yang semakin tinggi membuat kita lupa untuk berlaku jujur dan adil. Namun Tai Asu dalam hal ini juga bukan tanpa sebab. Kesenjangan anmtara pendidikan di perkotaan dan daerah-daerah yang terpencil dengan segala fasilitas yang jauh berbeda menjadikan Tai Asu itu dikeluarkan secara paksa karena takut anak didiknya tidak lulus ujian. Beban berat semakinb dipikul oleh guru-guru dinegeri ini karena nilai standar yang terus merangkak naik. Sementara hal itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada.
Tidak perlu mengkambing hitamkan Tai Asu, karena Tai Asu akan terus ada dan memaksakan dirinya menancap dalam daging kita, daging bangsa ini yang semakin tercerai berai. Dan terkadang Tai Asu itu bermanfaat bagi kita semua.
No Comments Yet
No comments yet.
Comments RSS TrackBack Identifier URI
Leave a comment
